Bab 17 – APA YANG HARUS KITA LAKUKAN ?

Bab 17 – APA YANG HARUS KITA LAKUKAN ?

Kita hidup pada jaman dimana setiap presiden, setiap anggota kongres, setiap perdana menteri, setiap gubernur, setiap walikota, rektor universitas, kepala sekolah, editor, pewawancara media, pastor, pendeta, pendeta Yahudi di dunia Barat harus memiliki pengetahuan yang obyektif tentang  Muhammad, Alquran, Hadis, dan sasaran-sasaran supremasi Islam .  Para pembaca mungkin akan berkeberatan dengan alasan: ketika kami diancam oleh fasisme dan berikutnya oleh komunisme, tidak seorangpun dari kita yang meminta para pimpinan sekutu agar meneliti dengan cermat Mein Kampf -nya Hitler atau Das Kapital-nya Karl Marx. Jadi, mengapa para pimpinan kita sekarang harus memperhatikan dan meneliti apa yang tertulis dalam Alquran dan Hadis ?

Mein Kampf dan Das Kapital secara realita tidak pernah didewa-dewakan oleh 1,3 miliar manusia.  Bahkan kekuatan negara-negara Poros (Jerman, Italia, Jepang, Bulgaria, Hongaria, dan Rumania)  dalam Perang Dunia ke-2 atau komunisme tidak pernah mencapai target infiltrasi mikro seperti yang dicapai oleh Islam melalui masuknya imigran Islam ke negara-negara Barat. Di antara berjuta-juta imigran Muslim yang suka damai terdapat beberapa juta yang secara fanatik setia pada cita-cita Muhammad yaitu supremasi Islam. Mereka ini bukan sekedar umat beragama tetapi juga para politikus ulung.

 

 

BERITA BURUK TENTANG SALAH INFORMASI

 

Kaum Muslim radikal yang tugasnya melakukan pencucian  otak para pengikutnya sesungguhnya jauh lebih berbahaya daripada mereka yang ditugasi melakukan bom bunuh diri, kecuali kalau orang dari kelompok kedua ini dilengkapi dengan senjata pembunuh massal. Pelaku bom bunuh diri biasanya terdiri dari para remaja yang sudah dicuci otaknya atau orang-orang dewasa yang tidak begitu cerdas. Sementara itu kaum Muslim radikal yang ditugasi melakukan pencucian otak biasanya terdiri dari orang-orang yang sangat pandai dan cerdas seperti misalnya para ulama yang mengajar di mesjid-mesjid atau di madrasah-madrasah, para pemimpin organisasi-organisasi Islam, para penulis Muslim, staff kedutaan, para profesor yang mempropagandakan Islam kepada anak-anak kita yang menjadi mahasiswa di kampus-kampus Barat.

Para pemimpin Barat yang hampa-informasi tentang Islam dapat dengan mudah terkecoh oleh perilaku mereka.  Mereka dengan halus sedikit demi sedikit memperkenalkan hukum-hukum Islam ke dalam pengajaran mereka, sehingga pada akhirnya tanpa disadari mereka akan menuntut agar hukum Islam diterapkan sebagai pengganti dari hukum-hukum Barat yang berlaku selama ini. Hal ini tentunya lebih berbahaya daripada ledakan bom, bukan ?

Setelah membaca buku-buku karangan saya, anda pasti mempu menyiasati teman-teman anda yang beragama Islam dengan menanyakan pada mereka pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat mereka jawab dengan maksud agar mereka (kaum Muslim) menyadari bahwa banyak hal yang mereka juga tidak tahu, sehingga merekapun harus belajar tentang kita karena banyak hal yang kita ketahui tetapi tidak mereka ketahui.

Selain buku ini, saya juga ingin  menyarankan anda untuk membaca buku karangan Ibn Warraq yang telah disebutkan pada bab sebelumnya dan juga buku karangan David Pryce-Jones yang berjudul The Closed Circle. 1

 

Kenaifan Di Kalangan Para Pucuk Pimpinan

Presiden Bush adalah seorang presiden yang baik, tetapi dia sama sekali tidak tahu menahu tentang Islam. Kenaifannya terlihat jelas ketika dia mengajak masyarakat Amerika untuk melakukan “perang salib” melawan terorisme.2 Saran saya yang pertama adalah agar para pemimpin Amerika dari berbagai tingkatan dan kategori dalam masyarakat mendapatkan pendidikan mengenai Islam supaya mereka dapat mengatur sikap dan strategi yang tepat manakala mereka berhadapan dengan masalah yang berkaitan dengan Islam.

 

 

 

Bagi masyarakat Amerika yang berpikiran liberal , kenyataan bahwa 1,3 miliar orang Muslim meyakini Alquran sungguh merupakan bukti bahwa pesan-pesan Alquran adalah benar.

 

 

 

Sumpah Untuk Menjunjung Tinggi Konstitusi

Selain itu ada aspek lain yang juga akan kami sarankan melalui tulisan ini yaitu bahwa setiap imigran yang berhasrat untuk dinaturalisasikan sebagai warganegara Amerika harus bersumpah untuk menjunjung tinggi Konstitusi Amerika. Orang-orang Kristen dan Yahudi tidak menghadapi masalah untuk bersumpah seperti itu.  Namun, umat Muslim yang bersumpah seperti itu — padahal mereka masih meyakini bahwa Allah telah berfirman pada mereka melalui Alquran untuk melakukan jihad/perang melawan kafir (termasuk orang-orang Amerika) — pasti telah melakukan suatu sumpah palsu.

Konstitusi tidak memberi peluang bagi agama untuk mengendalikan negara. Sementara itu Alquran melalui Syariat Islam dan Sunnah memerintahkan  Islam untuk mengendalikan pemerintahan sipil (negara). Alquran juga memberi hak kepada umat Muslim untuk menggantikan semua hukum-hukum negara dengan Syariat Islam. Menurut hukum konstitusional pembunuhan, perbudakan, pelacuran merupakan perbuatan terlarang, sementara itu Alquran mengijinkan hal tersebut terjadi . Hukum konstitusional menjamin persamaan hak pria dan wanita. Sementara itu Alquran menyatakan bahwa kesaksian seorang pria bobotnya sama dengan  kesaksian dua orang wanita (Surat 2 : 282).

Jika tidak ada batasan hukum yang tegas yang mengatur persyaratan tentang naturalisasi  bagi para imigran Muslim, Kantor Pelayanan Imigrasi dan Naturalisasi Amerika pasti kebobolan dengan menerima orang-orang Muslim masuk menjadi warganegara Amerika melalui sumpah palsu (sumpah yang hanya merupakan sandiwara saja). Kongres Amerika harus menyiapkan suatu perangkat hukum yang mewajibkan para pejabat Pelayanan Imigrasi dan Naturalisasi Amerika untuk mengingatkan orang-orang Muslim yang akan bersumpah sebagai prasyarat  menjadi warganegara Amerika bahwa tindakan mereka tersebut (bersumpah akan menjunjung tinggi konstitusi Amerika sebagai prasyarat menjadi warganegara Amerika) tersebut bertentangan dengan perintah-perintah Alquran. Selain itu pejabat Pelayanan Imigrasi dan Naturalisasi Amerika juga harus minta kesediaan imigran Muslim yang ingin menjadi warganegara Amerika agar mereka bersumpah  untuk memihak konstitusi dan bukan memihak Alquran kalau terjadi pertentangan antara perintah Alquran dengan perintah konstitusi. Para pemimpin Amerika dalam segala tingkatan harus menyadari  bahwa apabila tidak ada aturan yang tegas dalam urusan naturalisasi tersebut, para imigran Muslim yang ingin menjadi warganegara Amerika mungkin saja akan pura-pura menerima konstitusi namun setelah mereka resmi menjadi warganegara Amerika, mereka bisa saja  tetap setia pada perintah Alquran di atas perintah konstitusi karena Muhammad memang mengajarkan kepada umat Muslim bahwa komitmen mereka  kepada Islam mengatasi semua ikatan lain (termasuk ikatan sumpah untuk menjadi warganegara Amerika).

Lima Rukun Islam

Sejumlah pemimpin Amerika berpikir bahwa mereka sudah tahu tentang lima rukun Islam jadi mereka menganggap bahwa mereka telah  mengenal Islam dengan baik. Padahal kalau mereka tidak tahu bahwa satu-satunya rukun bagi Islam radikal adalah jihad, itu berarti mereka dapat disebut sebagai orang-orang yang hampa-informasi tentang Islam. Lima rukun Islam tidak ada artinya bila dibandingkan dengan “jihad”.

 

Petugas Kantor Pelayanan Imigrasi Dan Naturalisasi Perlu Mengajukan Sejumlah Pertanyaan Untuk Menguji Secara Informal

Bagaimana petugas Kantor Pelayanan Imigrasi dan Naturalisasi dapat mendeteksi  keintegritasan sumpah naturalisasi yang diucapkan  oleh seorang Muslim pada waktu dia mengajukan permohonan menjadi warganegara Amerika ? Kita dapat memanfaatkan salah satu prosedur yang sudah ada  yang selama ini berlaku di Kantor Pelayanan Imigrasi dan Naturalisasi sebagai pedoman.

Misalnya petugas kantor tersebut mengetahui dari pengalaman bahwa banyak orang yang keberatan  untuk mengucapkan sumpah yang bertentangan  dengan keyakinan mereka seperti orang-orang Kristen yang percaya Alkitab Perjanjian Baru melarang mereka untuk mengangkat senjata bahkan untuk menjaga diri sendiri sekalipun, karena menjaga dan melindungi diri setiap warganegara merupakan tugas pemerintah (negara) secara nasional.

Sehubungan dengan keyakinan tersebut, manakala saya (sebagai seorang Kristen) mengajukan permohonan untuk menjadi seorang warganegara Amerika dan petugas bertanya pada saya: “Jika seandainya anda diminta oleh pemerintah untuk mengangkat senjata demi membela negara Amerika, apakah anda setuju ?”  Tanpa ragu-ragu dan dengan tegas saya akan menjawab “setuju” karena saya punya landasan untuk menjawab demikian yaitu Roma 13 : 1-4.

Kalau seorang Muslim ingin mengajukan permohonan untuk menjadi seorang warganegara Amerika, para petugas wawancara dapat bertanya misalnya: “Apakah anda percaya bahwa Amerika Serikat akan memperoleh keuntungan dengan melaksanakan hukum Syariat Islam ?”  Kalau jawabannya “Ya” berarti jawaban tersebut tidak sejalan dengan konstitusi Amerika, karena konstitusi tersebut tidak membenarkan bahwa agama mengendalikan pemerintahan negara.

 

Menanyai Orang-Orang Hindu Juga Perlu Dilakukan

Supaya adil, orang-orang Hindu juga harus ditanyai . Sejumlah orang Hindu di India menekan pemerintahan India agar menghidupkan kembali kebiasaan yang menjadi budaya agama Hindu kuno yang disebut “sati (bahasa Sansekerta)”. “Sati” adalah suatu keyakinan Hindu bahwa seorang isteri yang suaminya meninggal dunia harus ikut dibakar hidup-hidup bersama dengan jenazah sang suami di atas pancaka.

“Sati” dilarang sejak Britania Raya memerintah India pada akhir abad ke-18 sampai tahun 1947.  Ketika India merdeka pada tahun 1947, sejumlah orang Hindu mendesak pemerintah India untuk menghidupkan kembali budaya “sati” tersebut. Sudah barang tentu orang-orang Hindu semacam itu lebih baik tinggal di negara asalnya saja, tidak ada alasan bagi mereka untuk pindah warganegara lain karena orang-orang tersebut pasti akan menimbulkan problem baru bagi negara tujuan.

 

Menanggapi Pendapat-Pendapat Buruk

Semua pendapat yang berdasarkan pada suatu pandangan agama tertentu bertentangan dengan hukum Barat, sehingga orang yang mengajukan permohonan untuk menjadi warganegara di negara Barat yang juga ingin menerapkan hukum agama tertentu di negara-negara Barat tersebut harus ditolak keinginannya untuk menjadi warganegara di sana.  Petugas Kantor Pelayanan Imigrasi dan Naturalisasi di sana berhak menolak permohonan mereka termasuk menolak memberikan visa kepada mereka.

 

 

KETIKA KAMI BERBAGI PENDAPAT MELALUI SIARAN RADIO/TELEVISI

 

Orang-orang Kristen yang diundang untuk merepresentasikan kekristenan menghadapi kaum Muslim dalam wawancara melalui media elektronik harus benar-benar memahami persoalan yang akan direpresentasikannya  agar apa yang disampaikannya tersebut efektif. Terutama kalau di sana hadir juga pewawancara sekuler karena sebagian dari mereka cenderung untuk memihak Islam.

Ketika seorang pewawancara Muslim atau seorang yang simpatik kepada Islam menyudutkan (menyerang) anda dengan mengatakan : “Anda menentang Islam”, anda dapat menangkis dengan mengatakan : “sekarang saya baru tahu bahwa Islam secara umum memiliki tujuan-tujuan diktatoris, kalau demikian saya sebagai seorang bebas memang menentang supremasi Islam sebagaimana halnya para pendahulu saya menentang  facisme dan komunisme dalam hidup mereka. Jika pewawancara  Muslim tersebut mengatakan : “Islam tidak beroposisi melawan demokrasi”, anda dapat balik bertanya: “Kalau begitu mengapa tidak ada satupun dari 55 negara Muslim yang menerapkan demokrasi di seluruh dunia Muslim bahkan menurut artikel di Newsweek negara Turki yang merupakan negara Muslim yang paling liberalpun masih sama sekali belum menjamin dilindunginya hak-hak asasi manusia.

Jika pewawancara Muslim dan simpatisannya tersebut menyatakan: “Anda telah menampar Islam”, anda dapat menjawab: “sesungguhnya Islam sendiri yang telah menampar umat Muslim karena Islam menolak memberikan kebebasan pada mereka, terutama kaum wanita Muslim”. Saya tidak mungkin menampar umat Muslim yang berjumlah 1,3 miliar, saya justru sangat prihatin atas nasib mereka yang telah kehilangan kebebasan mereka”.

Manakala anda diwawancarai di hadapan para pendengar sekuler dengan pertanyaan: “Apakah anda sebagai seorang Kristen mempercayai bahwa Tuhan tidak mendengar doa orang-orang Yahudi dan orang-orang Islam ?” Saya merekomendasikan kepada anda jawaban sebagai berikut: “Tuhan tidak tuli. Dia mendengar doa dari setiap orang bahkan sebelum orang tersebut mengucapkan doanya tersebut. Adapun mengenai apakah Tuhan menjawab atau tidak doa orang tersebut adalah urusan yang bersifat sangat teologis sehingga tidak bisa dijawab dalam wawancara singkat seperti ini”. Kalau pewawancara tersebut melanjutkan dengan pertanyaan: “Apakah anda percaya bahwa umat Muslim akan masuk neraka ?” Atas pertanyaan tersebut  anda jangan menjawab “ya” atau “tidak”.  Sebaiknya anda menjawab: “Seharusnya pertanyaan yang lebih relevan adalah : ‘apakah Alquran sendiri memperingatkan bahwa kami (orang-orang Kristen) sebagai orang-orang kafir akan masuk ke neraka bersama dengan banyak orang Muslim lainnya?’ ”  Kalau itu pertanyaannya jawaban saya adalah “ya betul banyak orang Muslim akan masuk neraka”.  Dalam Alquran dinyatakan bahwa bukan hanya orang-orang kafir seperti kami tetapi juga umat Muslim yang menolak untuk berperang membela Islam akan masuk neraka, jadi kalau Alquran harus dipercayai, jawabannya adalah ‘ya’ banyak orang Muslim akan masuk neraka.

Bahkan dalam Hadis disebutkan bahwa lebih banyak kaum wanita Muslim yang dibakar di neraka daripada kaum pria Muslim. Mengapa demikian ?  Menurut jalan pikiran Hadis, kaum wanita tersebut tidak mensyukuri kebaikan-kebaikan para suami mereka.

Dengan dibayang-bayangi oleh ancaman semacam itu, kami dan bahkan seluruh dunia sungguh merasa sangat prihatin atas nasib kaum wanita Muslim.

Memang Alkitab juga mencantumkan tentang ancaman neraka, tetapi Alkitab juga menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah orang yang tidak berdosa sehingga dapat menjadi juru damai  antara manusia dengan sang Pencipta langit dan bumi. (Untuk menjadi juru damai , Yesus telah mengorbankan nyawanya mati di kayu salib). Orang yang ingin didamaikan dengan Tuhan oleh Yesus sangat mudah syaratnya yaitu cukup orang tersebut mengakhiri dosa-dosanya dan kemudian minta ampun atas dosa-dosanya tersebut kepada sang Pencipta langit dan bumi melalui Yesus.

 

 

Islam tidak mempunyai juru damai (penebus), tidak mempunyai perantara

dan tidak mempunyai penjamin keampunan dosa.

 

 

 

Menurut Islam, setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan Tuhan dengan tanpa didampingi oleh  pembela. Dalam Islam tidak ada kepastian tentang nasib seseorang setelah dia meninggalkan dunia ini. Bahkan Muhammad sendiri meragukan kesempatannya masuk surga. Dalam Hadis yang disebut Hadis Empatpuluh dari An-Nawawi dikisahkan bahwa  Muhammad pernah berkata:

 

Sesungguhnya ada salah seorang dari kamu yang berperilaku seperti orang-orang yang akan masuk firdaus (menurut tafsir penerjemah orang yang berperilaku saleh dan benar) tetapi ketika jarak antara dirinya dengan firdaus hanya tinggal satu lengan saja, tiba-tiba sebagaimana yang telah ditetapkan Allah jauh-jauh hari sebelumnya , dia ternyata menurut ketetapan Allah itu harus dimasukkan ke neraka. Jadi dia kemudian dilemparkan ke neraka. Sementara itu ada salah seorang yang lain yang berperilaku seperti orang-orang yang bersiap-siap masuk neraka (menurut tafsir penerjemah orang yang berperilaku jahat dan tidak benar) tetapi ketika jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu lengan saja, tiba-tiba sebagaimana yang telah ditetapkan Allah jauh-jauh hari sebelumnya, dia ternyata menurut ketetapan Allah itu harus dimasukkan ke firdaus. Jadi dia kemudian dimasukkan ke firdaus. 3

 

Bahkan dalam Surat 11 : 108  Muhammad menyatakan:

 

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki lain sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

 

Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa setiap orang Muslim punya potensi untuk menerima  “karunia yang tiada putus-putusnya” yang dimaksud  “neraka”. (Catatan: lihat kata “kecuali” dalam kalimat tersebut yang menunjukkan adanya pernyataan yang berlawanan dengan pernyataan sebelumnya. Pernyataan sebelumnya adalah kata “surga” jadi yang berlawanan dengan “surga” adalah “neraka”).

Yesus Kristus mempresentasikan Tuhan sebagai Bapa Surgawi yang penuh kasih setia sampai selama-lamanya kepada umat manusia. Sementara itu Muhammad mempresentasikan Tuhan sebagai mahluk yang mengidap skizofrenia dan yang kepribadiannya selalu berubah-ubah.

Bahkan seorang Muslim yang jujur dan tinggi moralnya sekalipun tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah dia akan masuk surga atau masuk neraka sampai detik-detik terakhir pada saat mana keputusan baginya — yang sesungguhnya sudah ditetapkan oleh Allah jauh-jauh hari sebelumnya — dijatuhkan. Kenyataan tersebut sungguh membuat setiap orang Muslim menjadi ngeri dan bingung.

Sangat mungkin terjadi bahwa seseorang yang sudah ditakdirkan masuk neraka oleh Allah jauh-jauh hari sebelumnya, biarpun ketika di dunia dia menjadi seorang Muslim yang saleh dan jujur selama hidupnya akan percuma (sia-sia) saja karena dia pada akhirnya akan dimasukkan ke neraka juga.

Dalam apendiks A saya akan berikan perincian siapa-siapa saja orang yang akan atau tidak akan menuju neraka.

 

 

NAMA-NAMA ALLAH DAN LAIN-LAINNYA

 

Setelah kita mengetahui tentang Allah menurut konsep Muhammad, apakah nama Allah tersebut dapat disetarakan dengan nama Tuhan atau nama Allah adalah julukan dari Tuhan.Ayat-ayat dalam Alquran maupun Hadis seperti yang dikutip dalam buku ini menyebabkan orang-orang Kristen dan Yahudi berkesimpulan bahwa Allah orang-orang Islam bukan Tuhan umat Yahudi dan Kristen.

Berdasarkan kesimpulan tersebut umat Kristen dan Yahudi menolak menggunakan nama Allah sebagai nama alternatif dari Tuhan Alkitabiah (Yahweh). Sementara itu  umat Muslim tetap mengkonfirmasikan bahwa Allah dalam Islam adalah sang pencipta langit dan bumi.

 

Islam Juga Melakukan Revisi Atas Konsep Tentang Yesus

Bukan hanya konsep tentang Tuhan yang direvisi oleh Muhammad tetapi juga konsep tentang Yesus. Muhammad mengakui bahwa Yesus dilahirkan oleh perawan Maria, Yesus tidak berdosa dan telah melakukan berbagai tanda mujizat, tetapi dia tetap menghilangkan hal yang paling penting dari diri Yesus yaitu kematian dan kebangkitanNya.

Kitab Hadis memang mengakui bahwa Yesus akan kembali untuk menghakimi umat manusia tetapi ada suatu hal yang tidak sesuai dengan Alkitab sehubungan dengan kembalinya Yesus tersebut. Dalam Hadis tersebut dinyatakan bahwa Yesus akan kembali tetapi Dia akan menghancurkan Salib (maksudnya umat Kristen). Yesus bahkan akan memerintahkan semua orang Kristen dan umat Yahudi untuk masuk Islam  dan Yesus juga akan memerintahkan orang-orang Islam di manapun untuk  memusnahkan orang-orang Kristen dan Yahudi yang tidak mau bertobat dan masuk Islam. Orang-orang Kristen dan Yahudi yang menolak masuk Islam akan melarikan diri dan bersembunyi di belakang batu-batu besar dan pohon-pohon, tetapi sia-sia saja usaha mereka tersebut. Allah akan memberi kemampuan kepada batu-batu besar dan pohon-pohon tersebut untuk berteriak dan memberitahukan keberadaan orang-orang Kristen dan Yahudi itu kepada orang-orang Muslim.

 

 

 

Usaha Muhammad untuk mengajak umat Kristen dan Yahudi untuk masuk Islam dilanjutkan oleh para penerusnya (Umat Muslim) sampai hari ini.

 

Ketika saya mengunjungi Saudi Arabia beberapa tahun yang lalu, saya mendapat informasi bahwa pada suatu hari sebuah pesawat terbang Swiss akan mendarat di Arab Saudi, tetapi ditolak oleh pemerintah Arab Saudi karena pada bagian ekor pesawat tersebut tercetak sebuah gambar salib. Saya juga diberitahu bahwa para mutawas (polisi agama Arab Saudi) merampas kalung-kalung salib milik para wisatawan asing di jalan-jalan.

Melalui iklan-iklan dan umbul-umbul pemerintah Arab Saudi menawarkan hadiah keuangan kepada orang-orang Arab yang dapat memberi informasi tentang orang-orang Arab lain yang ketahuan menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh orang-orang Kristen atau orang-orang Arab yang menyimpan Alkitab. Para pekerja asing yang masuk agama Islam diberi hadiah keuangan. Sebaliknya orang-orang Arab Saudi yang masuk Kristen dipukuli, dipenjarakan, dan kadang-kadang dipenggal lehernya. Waspadalah.

 

 

Catatan:

1.               David Pryce-Jones, The Closed  Circle: An Interpretation of the Arabs (New York: Harper Collins, 1991), n.p.

2.               Sally Buzbee, “Bush’s Use of the Word ‘Crusade’ a Red  Flag”, Seattle Post- Intelligencer, September 18, 2001. http://seattlepi.nwsource.com/national/ 39266_crusade18.  shtml (diakses 28 Oktober 2002).

3.               Imam An-Nawawi, “An-Nawawi’s Forty Hadiths (number 4)”, International  Islamic University Malaysia. http://www.iiu.edu.my/deed/hadith/other/hadithnawawi.html (diakses 28 Oktober, 2002).

About siapmurtad

Siap memaparkan kesalahan alquran
This entry was posted in BUKU and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s