Sejarah Penyusunan Quran

Bagaimana proses penyusunan Quran hingga terbentuk menjadi sebuah kitab seperti yang ada sekarang ini? Kebanyakan kaum Muslim meyakini bahwa Quran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Muhammad lebih dari seribu empat ratus tahun silam. Bahkan muslim percaya banwa Quran merupakan salinan dari kitab yang ada disurga (lahul mahfuz). Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan² teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin² Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Quran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa kebohongan, dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.

PARA PAKAR ISLAM PUN TIDAK BISA MEMBUKTIKAN APAKAH QURAN YANG ADA SEKARANG INI MASIH SAMA ISINYA DENGAN QURAN YANG ADA DIJAMAN MUHAMMAD.

Dua keterangan yang paling terkenal adalah; sebelum dia mati, Muhammad menyusun Quran menjadi sebuah buku dan Kalifah berikutnya, Abu Bakar, menyusunnya dari orang² yang telah menulis ayat² Quran dan menghafalnya. Meskipun begitu, kami diajarkan bahwa Quran yang sekarang ini sama persis dengan yang diberikan pada Muhammad dulu oleh malaikat Jibril.

Untuk mengerti sejarah Islam kami kemudian mulai mempelajari sumber² Islam yang bisa dipercaya, terutama yang Sahih yang disusun oleh Bukhari. Sewaktu sedang mempelajari sejarah penyusunan teks Quran, betapa kagetnya kami ketika mengetahui bahwa Quran yang kita miliki hari ini ternyata telah melalui beberapa tahapan evolusi sebelum mencapai versi standar sekarang ini. Misalnya, kami menemukan ada tujuh cara yang berbeda untuk melafalkan Quran. Seorang dapat melafalkan dan mengingat Quran secara berbeda dan itu tetap diterima sebagai wahyu Allah. Kutipan dari Hadis Sahih Bukhari:

Sahih Bukhari 41:601
Dikisahkan oleh ‘Umar bin Al-Khattab: Aku dengar Hisham bin Hakim bin Hizam melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan caraku. Rasul Allah telah mengajarkan padaku (dengan cara yang berbeda). Lalu, aku hampir saja ingin bertengkar dengan dia (pada saat sembahyang) tapi aku tunggu sampai dia selesai, lalu aku ikat bajunya di sekeliling lehernya dan kuseret dan kubawanya menghadap Rasul Allah dan berkata, “Aku telah mendengar dia melafalkan Surat-al-Furqan dengan cara yang berbeda dengan yang kau ajarkan padaku.” Sang Rasul menyuruhku melepaskan dia dan meminta Hisham melafalkannya. Ketika dia melakukan itu, Rasul Allah berkata, “Itu (Surat-al-Furqan ) dilafalkan begitu.” Sang Rasul lalu meminta aku melafalkannya. Ketika aku melakukannya, dia berkata, “Itu dilafalkan begitu. Qur’an telah dinyatakan dalam tujuh cara yang berbeda, jadi lafalkan dengan cara yang mudah bagimu.”

Karena terdapat tujuh cara pelafalan Quran (qiraat) ini berarti kaum Muslim dapat mengingat Quran dalam tujuh cara yang berbeda, bukan hanya satu. Jika Muhammad telah mengijinkan tujuh cara untuk melafalkan Quran, maka tentunya juga ada tujuh versi Quran, dan bukan hanya satu!

Kami tidak pernah diajarkan bahwa ada tujuh buah Quran, tapi kami hanya diberitahu ada satu Quran saja. Apakah memang betul ada tujuh buah dan semuanya itu asli ? Ketika kami terus melanjutkan penelaahan, kami temukan Hadis Sahih lain yang memperkuat dan memperluas paham bahwa Quran mungkin dikisahkan dalam tujuh cara yang berbeda.

Sahih Bukhari 54:442
Rasulullah berkata; Jibril melafalkan Quran padaku dengan satu cara (dielek), aku kemudian menyuruhnya untuk melafalkan dengan cara yang berbeda, hingga ia melafalkan dengan tujuh macam cara.

Hadis serupa dapat dilihat pada Bukhari 61:513, 61:514, dan 3:640.

Sewaktu kami mempelajarinya lebih lanjut, Hadis Sahih menegaskan bahwa bukan Muhammad yang menyusun tulisan Quran menjadi satu koleksi, tapi ini untuk pertama kali dilakukan di bawah kekuasaan Kalifah Abu Bakar. Ternyata pada saat itulah qurra, yakni orang² yang menghafalkan Quran, terbunuh di Perang Yamama. Khalifa Abu Bakar memerintahkan untuk dibuat kumpulan ayat² Quran, dan ini juga atas desakan Umar (Kalifah kedua). Kumpulan ayat ini disimpan oleh Kalifah Abu Bakar, dan setelah dia mati, lalu disimpan oleh Kalifah Umar dan diserahkan pada anak perempuan Umar yang bernama Hafsa, yang juga janda Muhammad.

Sahih Bukhari 61:509
Dikisahkan oleh Zaid bin Thabit: Abu Bakr As-Siddiq memanggilku ketika orang² Yamama telah dibunuh (sejumlah pengikut sang Nabi yang bertempur melawan Musailama). (Aku pergi kepadanya) dan menemukan ‘Umar bin Al-Khattab duduk dengannya. Abu Bakar lalu berkata (padaku), “Umar telah datang padaku dan berkata: “Banyak yang Qurra Quran (orang² yang hafal Quran di luar kepala) yang tewas di Perang Yamama dan aku takut akan lebih banyak lagi Qurra yang akan tewas di medan perang lain, sehingga sebagian besar Quran bisa hilang. Karena itu aku menganjurkan kau (Abu Bakr) memerintah agar ayat² Quran dikumpulkan.

”Aku berkata pada ‘Umar, “Bagaimana kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul Allah saja tidak lakukan?” ‘Umar berkata, “Demi Allah, ini adalah usaha yang baik.” ‘Umar terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai Allah membuka hatiku dan aku mulai menyadari kebenaran usul ini.”

Lalu Abu Bakar berkata (padaku). ‘Kamu adalah anak muda yang bijaksana dan kami tidak curiga apapun padamu, dan kau biasa menulis Ilham Illahi bagi Rasul Allah. Maka kau harus mencari (ayat² terpisah-pisah) Qur’an dan mengumpulkannya jadi satu buku.” Demi Allah, jika mereka memerintahkanku untuk memindahkan satu dari gunung², ini tidak akan sesukar perintah mengumpulkan ayat² Quran. Lalu aku berkata pada Abu Bakar, “Bagaimana kau dapat berbuat sesuatu yang Rasul Allah saja tidak lakukan?” Abu Bakar menjawab, ““Demi Allah, ini adalah usaha yang baik.” Abu Bakar terus saja membujukku untuk menerima usulnya sampai Allah membuka hatiku seperti Dia telah membuka hati Abu Bakar dan Umar.

Lalu aku mulai mencari ayat² Quran dan mengumpulkannya dari (yang ditulis di) tangkai² palem, batu² putih tipis dan juga orang² yang mengingatnya dalam hati, sampai aku menemukan ayat akhir dari Surat At-Tauba (Pertobatan) dari Abi Khuzaima Al-Ansari, dan aku tidak menemukan ayat ini pada orang lain. Ayatnya berbunyi: ‘Sesungguhnya telah datang bagimu seorang Rasul (Muhammad) dari antara kalian sendiri. Dia sedih melihat engkau harus menerima kecelakaan atau kesusahan … (sampai akhir Surat-Baraa’ (At-Tauba) (9.128-129). Lalu naskah² (salinan) lengkap Quran disimpan Abu Bakr sampai dia mati, lalu disimpan ‘Umar sampai akhir hidupnya, dan kemudian disimpan Hafsa, anak perempuan Umar.

Sewaktu kami mempelajari Hadis Sahih di atas dan Hadis yang lain yang sama pesannya, kami mendapatkan hal² yang penting. Pertama, Umar khawatir jika Quran tidak ditulis, dan jika qurra banyak yang mati, maka sebagian besar Quran akan hilang.

Kedua, ini adalah tugas yang monumental (besar sekali) yang diberikan pada Zaid karena Muhammad sendiri tidak pernah melakukan hal ini, dan Zaid menjelaskan kekhawatirannya.

Ketiga, perlu banyak usaha untuk mengumpulkan ayat² Quran karena beberapa ayat hanya diingat oleh satu orang dan tidak ada orang lain yang menegaskan atau membenarkannya. Ada beberapa Hadis Sahih lain yang juga mengatakan hal itu.

Kejujuran Zaid membuat kami waswas. Apakah betul ini adalah tugas yang sangat berat? Apakah memang dia orang yang tepat melaksanakan tugas itu? Kami mulai mencari dan menemukan bahwa Muhammad telah menganjurkan orang² lain dan bukan Zaid untuk mengajar Quran pada muslim lain.

Sahih Bukhari 61:521
Dikisahkan oleh Masriq: ‘Abdullah bin ‘Amr mengingatkan ‘Abdullah bin Masud dan berkata, “Aku akan mencintai orang itu selamanya, karena aku mendengar sang Nabi berkata, ‘Belajarlah Qur’an dari empat orang ini: ‘Abdullah bin Masud, Salim, Mu’adh dan Ubai bin Ka’b.”

Kami sangat khawatir karena tidak seorangpun dari keempat orang yang direkomendasikan Muhammad untuk mengajar Quran diberi tugas untuk mengumpulkan atau menegaskan kebenaran Quran. Yang disuruh justru juru tulisnya Muhammad: Zaid bin Thabit. Dia juga khawatir bahwa tugas ini terlalu berat. Tapi baik Kalifah Abu Bakr maupun Umar pada saat itu tidak minta satu pun dari keempat orang di atas untuk memeriksa hasil penyusunan Quran buatan Zaid.

Kami lanjutkan penyelidikan dengan rasa agak bingung karena proses penyusunan ini ternyata melibatkan lebih banyak hal yang tidak pernah didengar sebelumnya. Sayangnya, kami mendapatkan bahwa sejarah penyusunan Quran tidak berhenti pada saat itu saja. Dengan makin bertambah dan menyebarnya masyarakat Muslim, jadi bertambah sukar pula untuk mempertahankan keutuhan isi Quran karena tidak ada satu patokan isi Quran yang sah, setiap guru agama punya salinan mereka sendiri. Ini mengakibatkan banyaknya ketidaksetujuan diantara masyarakat Muslim, dan karena itu, Kalifah Utsman diminta untuk berbuat sesuatu untuk menanggulangi hal ini.

Harap diingat bahwa pada saat itu, naskah Quran yang dikumpulkan Zaid tidak disebarkan ke mana2, dan masih disimpan oleh Hafsa. Juga perhatikan apa yang dilakukan Kalifah Utsman seperti yang diterangkan di Hadis Sahih Bukhari berikut.

Sahih Bukhari, 61:510
Dikisahkan oleh Anas bin Malik: Hudhaifa bin Al-Yaman datang pada Utsman pada saat orang² Sham dan Iraq sedang mengadakan perang untuk menaklukkan Arminya dan Adharbijan. Hudhaifa takut akan perbedaan pelafalan Qur’an yang dilakukan mereka (orang² Sham dan Iraq), lalu dia berkata pada ‘Utsman, “O ketua orang yang beriman! Selamatkan negara ini sebelum mereka bertentangan tentang Buku ini (Qur’an) seperti yang dilakukan orang Yahudi dan Kristen sebelumnya.” Lalu ‘Utsman mengirim pesan pada Hafsa yang isinya, “Kirim pada kami naskah² Qur’an sehingga kami bisa mengumpulkan bahan² Qur’an dalam salinan yang sempuran dan mengembalikan naskah² itu padamu.”

Hafsa lalu mengirimkannya pada ‘Utsman. ‘Utsman lalu memerintahkan Zaid bin Thabit, ‘Abdullah bin AzZubair, Said bin Al-As dan ‘AbdurRahman bin Harith bin Hisham untuk menulis ulang naskah² itu menjadi salinan yang sempurna. ‘Utsman berkata pada tiga orang Quraish, “Andaikata kau tidak setuju dengan Zaid bin Thabit tentang isi apapun dalam Qur’an, maka tulislah Qur’an dalam dialek Quraish, agar Qur’an dinyatakan dalam bahasa asli mereka.”

Mereka melakukan itu, dan ketika mereka telah menulis banyak salinan, ‘Utsman mengembalikan naskah² yang asli pada Hafsa. ‘Utsman mengirim satu salinan Qur’an ke setiap propinsi Muslim, dan memerintahkan semua tulisan² Qur’an lain, baik yang ditulis di beberapa naskah atau seluruh buku, dibakar.

Said bin Thabit menambahkan, “Satu ayat dari Surat Ahzab hilang dariku ketika kita menyalin Qur’an dan aku biasa mendengar Rasul Allah menceritakannya. Maka kami mencarinya dan menemukannya pada Khuzaima bin Thabit Al-Ansari. (Ayat ini berbunyi): ‘Diantara orang² yang beriman ada orang² yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.’ (33.23)

Dari mempelajari kisah di atas dan juga Hadis Sahih lain yang pesannya serupa, kami perhatikan ada beberapa kumpulan Quran yang berbeda² yang tersebar saat itu. Ini adalah bagian kumpulan Quran yang dibuat oleh keempat guru² Quran yang direkomendasikan Muhammad seperti yang ditulis di Hadis terdahulu, yakni salah satunya Ubai bin Ka’b. Lagi² kami merasa terganggu dengan hal² berikut.

Pertama, ada banyak ketidaksetujuan diantara para Muslim tentang apa yang seharusnya ada dalam Quran. Karena itu, Kalifah Utsman memerintahkan naskah² Quran yang disimpan Hafsa untuk disalin dan disebarkan dan ditunjuk sebagai salinan Quran yang sah.

Kedua, jika ada banyak ketidaksetujuan diantara ahli² tulis yang menyalin Quran tentang bagaimana melafalkan suatu ayat, Utsman menyuruh mereka menulisnya dalam dialek Quraish. Kami kecewa ketika tahu bahwa Kalifah Utsman memerintahkan perubahan kata² Quran ke dalam dialek Quraish. Apakah perubahan bagian dari tujuh versi Quran yang berbeda? Kami tidak menemukan penjelasan ini di Hadis Sahih. Yang terakhir, kami kaget sekali ketika Khalifa Utsman memerintahkan PEMBAKARAN Quran2 yang lain, tidak peduli apakah seluruhnya atau sebagian saja. Kami bertanya dalam hati: MENGAPA? Mestinya karena Quran² lain yang beredar saat itu begitu berbeda dengan yang dimiliki Khalifa Utsman sehingga dia sampai² mengeluarkan perintah yang begitu keras. Ingat saat Al-Yaman bertemu Utsman untuk memintanya menyelamatkan negara karena mereka berbeda pendapat tentang Quran. Sekarang Kalifah Utsman memerintahkan disebarkannya salinan yang dimiliki Hafsa, padahal versi ini belum pula disahkan oleh guru² Quran terbaik untuk jadi patokan Quran yang sah.

Sewaktu kami menyelidiki apa kemungkinan perbedaannya yang ada, kami menemukan contoh kata Bismillah yang hilang pada awal Surah 9, ayat perajaman yang hilang dimakan KAMBING, dan lalu ayat ini dihapus, ditarik kembali, dibatalkan atau dilupakan. Kami telah membicarakan hal ini dalam penelitian kami tentang ayat² yang dibatalkan (Ayat² setan). Kami menjumpai bahwa meskipun perintah penghancuran diberikan, beberapa bagian dari versi Quran lain ternyata selamat, mungkin karena orang² Muslim hafal akan variasi lain dari Quran.

Contohnya, dari terjemahan Quran oleh Abdullah Yusuf Ali, kami menemukan Qiraat (bacaan Quran) lain yang berbeda dengan Quran milik Ka’b yang direkomendasikan Muhammad sebagai satu dari empat guru terbaik untuk mengajar Quran. Dia menulis ada kata2 tambahan bagi Surah 33:6. Kami dulu diajari bahwa tidak ada satu titik pun yang diubah, dan inilah seluruh kalimat yang hilang yang ditandai dengan ** di bawah di catatan kaki 3674 dari Abdullah Yusuf Ali.

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri, ** dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). (QS 33:6)

** Catatan kaki 3674 : … Di beberapa Qiraats, seperti yang dimiliki Ubai ibn Ka’b, muncul pula kata² ini “dan dia adalah ayah bagi mereka”, yang mengartikan bahwa hubungan spiritualnya dan hubungannya denga kata² “dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka”. …

As-Suyuti (wafat 1505), salah seorang pakar Quran yang paling dihormati mengutip Ibn ‘Umar al Khattab : “Janganlah ada diantara kalian yang mengatakan bahwa ia mendapatkan seluruh Quran, karena bagamana ia tahu bahwa itu memang keseluruhannya? Banyak dari Quran telah hilang. Oleh karena itu, kalian harus mengatakan ‘Saya mendapatkan sebagian Quran yang ada’” (As-Suyuti, Itqan, part 3, page 72).

Aisha, isteri tersayang nabi mengatakan, juga menurut sebuah tradisi yang diceritakan as-Suyuti, “Selama masa Nabi, saat dibacakan, Surah al-Ahzab berisi 200 ayat. Ketika Utsman mengedit Quran, hanya ayat² sekarang ini (73) yang tertinggal.”

As-Suyuti juga menceritakan ini tentang Uba ibn Ka’b, salah seorang sahabat Muhammad: Sahabat terkenal ini meminta salah seorang Muslim, “Berapa ayat yang ada dalam Surah al-Ahzab?” Katanya, “73 ayat.” Ia (Uba) mengatakan padanya, “Dulunya jumlah ayatnya hampir sama dengan Surah ‘Al Baqarah’ (sekitar 286 ayat) dan termasuk ayat perajaman”. Lelaki itu bertanya, “Apa ayat perajaman itu ?” Ia (Uba) mengatakan, “Jika lelaki tua atau wanita melakukan zinah, rajam mereka sampai mati.”

Ibn Mas’ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Quran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas’ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Quran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An’am, tapi surah Yunus.

Ibn Mas’ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Quran. Sahabat lain yang menganggap surah “penting” itu bukan bagian dari Quran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Quran atau ia hanya merupakan “kata pengantar” saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Quran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah “ungkapan liturgis” untuk memulai bacaan Quran. Ini merupakan tradisi populer masyarakat Mediterania pada masa awal Islam. Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: “siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia.”

Seperti yang kita lihat sebelumnya, Utsman mencoba mengatasi situasi kacau ini dengan kanonisasi codex / mushaf Medinah, yang salinannya dikirim kesemua pusat² metropolitan diiringi perintah untuk menghancurkan kesemua mushaf lain.

Mushaf Utsman ini dianggap sebagai standar teks konsonan, tapi yang kita temukan justru terdapat berbagai variasi teks konsonan yang masih hidup juga sampai abad Islam ke 4. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari’) dari kata a-l-m bisa dibaca yu’allimu, tu’allimu, atau nu’allimu atau juga menjadi na’lamu, ta’lamu atau bi’ilmi.

Masalah diperuncing dengan adanya perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas’ud berulangkali menggunakan kata “arsyidna” ketimbang “ihdina” (keduanya berarti “tunjuki kami”) yang biasa didapati dalam mushaf Utsmani. Begitu juga, “man” sebagai ganti “alladhi” (keduanya berarti “siapa”). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata dan arti yang berbeda, seperti “al-talaq” menjadi “al-sarah” (Ibn Abbas), “fas’au” menjadi “famdhu” (Ibn Mas’ud), “linuhyiya” menjadi “linunsyira” (Talhah), dan sebagainya.

Untuk mengatasi versi2 bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding2kan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama. Bahkan ketujuh mushaf versi Ibn Mujahid memberikan 14 kemungkinan karena masing2 dari ketujuh mushaf itu bisa dilacak kepada dua transmitter berbeda. yakni:

  1. Nafi dari Medinah menurut Warsh dan Qalun
  2. Ibn Kathir dari Mekah menurut al-Bazzi dan Qunbul
  3. Ibn Amir dari Damascus menurut Hisham dan Ibn Dakwan
  4. Abu Amr dari Basra menurut al-Duri dan al-Susi
  5. Asim dari Kufa menurut Hafs dan Abu Bakr
  6. Hamza dari Kufa menurut Khalaf dan Khallad
  7. Al-Kisai dari Kufa menurut al Duri dan Abul Harith

Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa “Quran diturunkan dalam tujuh huruf.” Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan versi² lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan²nya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi para ulama tersebut tidak banyak berpengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima oleh banyak orang. Pada akhirnya 3 versi bertahan, versinya Warsh (812) milik Nafi dari Medina, Hafs (805) milik Asim dari Kufa, dan al-Duri (860) milik Abu Amr dari Basra. Jaman sekarang, hanya 2 versi yang terus digunakan. Yaitu versi Asim dari Kufa lewat Hafs, yang diberikan ijin resmi dengan diadopsi sebagai Quran edisi Mesir tahun 1924; dan milik Nafi lewat Warsh, yang digunakan di bagian² Afrika selain Mesir.

Pencetakan Quran di Mesir tahun 1924 adalah rekayasa yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembukuan Quran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Quran Edisi Mesir itu merupakan versi Quran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim. Keberhasilan penyebarluasan Quran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa² sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Quran adalah karya institusi yang didukung oleh penguasa politik.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Quran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek standarisasi kitab suci, yang bertujuan memusnahkan versi² Quran yang lain. Kendati tidak seperti Utsman bin Affan yang secara terang²an memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Quran yang bukan miliknya, tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Quran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan² menyisihkan edisi lain yang diam² masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

Akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa Quran versi yang ada sekarang ini jauh dari kata suci dan murni. Bahkan jika dibandingkan dengan kitab samawi lain seperti Taurat dan Injil, kemurnian atau validitas Quran jauh dibawah kedua kitab tersebut.

Aisha pernah melaporkan bahwa bahwa ada satu lembaran yang berisi 2 ayat, termasuk ayat² rajam, ditulis dalam lembaran yang disimpan dibawah tempat tidurnya. Sayang pada waktu pemakaman Rasulullah, seekor binatang memakannya hingga musnah. Disebutkan dalam bahasa Arab bahwa binatang tersebut adalah “dajin”, yang dapat berarti hewan seperti kambing, domba ataupun unggas.

Sumber:

  • Ibrahim b. Ishaq al Harbis, Gharib al hadith menyebutkan “shal” yang berarti domba• Zamakshari, al Kashaf, vol 3 p 518, footnote
  • Sulaym b. Qays al Hilali, Kitab Sulaymn b. Qays, p 108
  • Al Fadl b. Shadahn, al Idah, p 211
  • Abd al Jalil al Qazwini, p 133

Peristiwa hilangnya ayat² Quran akibat dimakan binatang sungguh menggelikan, menyedihkan dan memalukan, karena ucapan ALLAH DIKALAHKAN OLEH SEEKOR KAMBING.
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS 15:9)

MASIHKAH UMAT MUSLIM MENGATAKAN BAHWA KEMURNIAN QURAN SENANTIASA TERPELIHARA OLEH ALLAH?

About siapmurtad

Siap memaparkan kesalahan alquran
This entry was posted in QURAN. Bookmark the permalink.

12 Responses to Sejarah Penyusunan Quran

  1. Foop says:

    SEMOGA ALLAH SWT MEMBERI HIDAYAH KEPADA ANDA

  2. cahya says:

    anda hanya memahami quran dengan sepenggal penggal lantas menyimpulkan, dan kesimpulan anda salah.

  3. king says:

    Bagimu agamamu, bagiku agamaku

  4. pandugendut says:

    Siapa Pengarang Perjanjian Lama?

    Kebanyakan pembaca Perjanjian Lama yang menerima
    pertanyaan tersebut di atas akan menjawab dengan
    mengulangi apa yang pernah mereka baca dalam Kata
    Pengantar Bibel, yaitu yang mengatakan bahwa fasal itu
    semua adalah karangan Tuhan, walaupun ditulis oleh
    orang-orang yang mendapat wahyu dari Ruhul Kudus.

    Kadang-kadang orang yang memperkenalkan Bibel tadi
    menganggap cukup dengan keterangan singkat tersebut,
    dan dengan begitu ia menutup kemungkinan untuk
    pertanyaan lebih lanjut; tetapi kadang-kadang ia
    menambah penjelasan bahwa mungkin ada
    perincian-perincian yang ditambahkan orang dalam teks
    lama, akan tetapi meskipun begitu, perbedaan faham
    tentang sesuatu ayat, tidak merubah kebenaran
    keseluruhan. Orang selalu menekankan kepada “Kebenaran”
    yang dijamin oleh Kepala Gereja, yaitu orang yang
    mendapat bantuan dari Ruhul Kudus, satu-satunya pihak
    yang berhak menerangkan sesuatu kepada orang-orang yang
    percaya. Bukankah Gereja, semenjak konsili-konsili abad
    ke 4 telah meresmikan daftar Kitab Suci yaitu daftar
    yang dikuatkan oleh konsili Florence (1441), Trente
    (1546) dan Vatikan I (1870) untuk menjadi Kanon (Injil
    Induk). Belum lama ini, setelah mengeluarkan
    bermacam-macam encyclique (dekrit), Paus telah
    mengumumkan suatu keterangan tentang Refelasi (wahyu)
    dalam bentuk suatu teks yang sangat penting yang
    disusun selama tiga tahun (1962 – 1965). Kebanyakan
    orang yang membaca Bibel mendapatkan keterangan-
    keterangan yang menenteramkan hati itu di permulaan
    cetakan modern serta merasa puas dengan jaminan
    kebenaran yang telah diberikan selama beberapa abad
    dan mereka itu tak pernah memikirkan bahwa orang dapat
    mendiskusikan isi Bibel.

    Akan tetapi jika seseorang membaca buku-buku yang
    ditulis oleh ahli-ahli agama, yakni buku-buku yang
    tidak dimaksudkan untuk dibaca oleh orang awam, ia akan
    menyadari bahwa soal autentitas kitab dalam Bibel itu
    jauh lebih kompleks daripada pemikiran orang biasa.
    Jika salah seorang membaca umpamanya, cetakan modern
    dari pada Bibel yang diterjemahkan ke bahasa Perancis
    di bawah asuhan Lembaga Bibel di Yerusalem dan
    diterbitkan dalam bagian-bagian terpisah, ia akan
    mendapatkan suara yang sangat berbeda, dan ia akan
    mengerti bahwa Perjanjian Lama, seperti juga Perjanjian
    Baru, telah menimbulkan problema-problema yang para
    ahli tafsir tidak menyembunyikan unsur-unsurnya yang
    menimbulkan khilaf.

    Kita juga mendapatkan unsur-unsur yang pasti dalam
    pembahasan yang lebih ringkas akan tetapi obyektif,
    seperti dalam buku karangan Professor Edmond Yacob
    “Perjanjian Lama,” yang diterbitkan oleh Presse
    Universitaire de France,dalam seri yang berjudul: Que
    Sais-je, (apakah yang saya ketahui?). Buku tersebut
    memberi gambaran yang menyeluruh.

    Banyak orang yang tidak tahu bahwa pada permulaannya,
    seperti yang dikatakan Edmond Jacob, terdapat beberapa
    teks Perjanjian Lama dan bukan teks tunggal. Pada abad
    III SM sedikitnya ada tiga teks Ibrani, yaitu teks
    massorethique, teks yang dipakai untuk terjemahanYunani
    dan teks kitab Taurat Samaria. Pada abad pertama SM,
    ada kecenderungan untuk membentuk teks tunggal, akan
    tetapi hal tersebut baru terlaksana satu abad kemudian.

    Jika kita mempunyai tiga teks tersebut di atas, tentu
    kita dapat melakukan studi perbandingan dan kita
    mungkin dapat mempunyai idea tentang teks yang asli,
    akan tetapi kita tak mempunyai teks tersebut di atas.
    Selain gulungan-gulungan yang terdapat di gua Qumran
    pada tahun 1947, yaitu gulungan yang berasal dari zaman
    sebelum timbulnya agama Kristen, dan dekat sebelum
    munculnya Nabi Isa, telah terdapat Papyrus Decalogue
    berasal dari abad II M, dan mengandung
    perbedaan-perbedaan dari teks klasik, begitu juga
    fragmen Perjanjian Lama, yang ditulis orang pada abad V
    M. (Fragmen Geniza, Cairo); selain itu semua, teks
    Bibel Ibrani yang paling tua adalah teks abad IX M.

    Terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani terjadi
    pada abad III sebelum Masehi. Teksnya dinamakan
    Septante (berarti tujuh puluh; yakni jumlah orang yang
    menterjemahkan). Terjemahan tersebut dilakukan oleh
    orang-orang Yahudi di Alexandria. Pengarang-pengarang
    Perjanjian Baru bersandar kepada teks tersebut, dan
    teks tersebut dipakai orang sampai abad VII M. Pada
    waktu sekarang teks Yunani yang dipakai Dunia Kristen
    adalah manuskrip (tulisan tangan) yang dinamakan Codex
    Vaticanus yang disimpan di Vatican dan Codex Sinaiticus
    (berasal dari Sinai) yang disimpan di British Museum di
    London. Manuskrip tersebut ditulis pada abad IV M.

    Terjemahan dalam bahasa Latin dilakukan oleh Jerome
    dari dokumen-dokumen Ibrani pada permulaan abad V M.
    Terjemahan Latin ini kemudian dinamakan Vulgate oleh
    karena telah tersebar diseluruh Dunia sesudah abad VII
    M.

    Perlu kita ketahui juga bahwa ada terjemahan Aramaik
    dan Syriaks akan tetapi terjemahan itu hanya mengenai
    beberapa bagian dari Perjanjian Lama.

    Bermacam-macam terjemahan tersebut telah diolah oleh
    beberapa orang ahli dan dijadikan teks tengah-tengah;
    yakni yang merupakan kompromi antara bentuk-bentuk yang
    berbeda-beda. Ada pula yang mengumpulkan bermacam-macam
    terjemahan disamping Bibel Ibrani seperti terjemahan
    Yunani, Latin, Syriak, Aramaik dan Arab. Kumpulan
    itulah yang tersohor dengan nama Bibel Walton (London
    tahun 1657).

    Perlu kita tambahkan pula bahwa diantara Gereja-gereja
    Masehi yang bermacam-macam sekarang keadaannya adalah
    bahwa Gereja-gereja itu tidak menerima fasal-fasal yang
    sama dalam Bibel, dan Gereja-gereja tersebut juga tidak
    mempunyai pengesahan yang sama mengenai
    terjemahan-terjemahan dalam satu bahasa. Usaha-usaha
    untuk mempersatukan masih dilakukan dan terjemahan
    Ekumenik (persatuan) yang dilakukan oleh ahli-ahli
    Katolik dan Protestan mengenai Perjanjian Lama ternyata
    akan meng hasilkan sintesa (perpaduan).

    Dengan begitu maka usaha manusia mengenai teks
    Perjanjian Lama ternyata sangat besar, dan dengan mudah
    kita mengetahui bahwa sebagai akibat koreksi-koreksi
    antara versi yang bermacam-macam dan terjemahan yang
    bermacam-macam, teks yang asli sudah berubah selama dua
    ribu tahun.

    BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
    Dr. Maurice Bucaille

  5. la ode udibara says:

    qURAN diwahyukan dalam bentuk lisan bukan tulisan..dan walaupun seperti anda ada yang dimakan binatang namun masih banyak tersebar dan tertulis ditempat2 lain dan juga dihafalkan dalam dada2 para penghafal quran>bukankah setiap shalat selalu dibaca sejak zaman nabi?dan mereka shalat sellau membaca ayat2 yang panjang bahkan satu rakaat dengan satu surat yang panjang.dan proses pengumpulannya juga sangat terpelihara dimana selain dengan hafalan tulisan2 yang ada dikumpulkan yang telah tersebar penulisannya sejak zaman nabi.Jadi benarlah janji Allah…hanya kalian saja yang iri dengan Islam karena kitab nya tetap terpelihara tidak seperti Kitab kalian…Kalian mengatakan bahwa validitsnya jauh dibawah perjanjian lama & baru?itukan kata kalian saja karena kalian tidak mau belajar….coba dengar apa yang orang2 kristen terpelajar katakan tentang Alkitab

  6. be says:

    banyaakan mana?? umat islam masuk kristen atau kristen masuk islam??????
    alasan nya satu.. saat org sperti anda mencari kesalahan2 islam, semakin banyak anda menemukan kebenaran islam..
    semoga anda termasuk orang2 yang menyadari itu, cepet masuk islaam ya mas bro :)

  7. Papa Lani says:

    Versi dialek dianggap Alqur’an telah dirubah rubah…

    46. 58/4653. Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair dari hadits Al Miswar bin Makhzamah dan Abdurrahman bin Abd Al Qari` bahwa keduanya mendengar Umar bin Al Khaththab berkata, Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku pernah mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membacakan surat Al Furqan, maka aku pun mendengarkan bacaannya dengan seksama. Dan ternyata ia membacanya dengan Huruf (cara bacaan) yang begitu banyak, yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri belum membacakan bacaan seperti itu padaku, maka aku pun ingin segera menyergapnya di dalam shalat, namun aku menunggunya hingga selesai salam dan langsung meninting lengan bajunya seraya bertanya, “Siapa yang membacakan surat ini padamu?” Ia menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membacakannya padaku.” Maka kukatakan padanya, “Kamu telah berdusta. Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah membacakan surat -yang telah aku dengar ini darimu- padaku.” Maka aku pun segera membawanya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku mendengar orang ini membaca surat Al Furqan dengan cara baca yang belum pernah Anda ajarkan padaku. Dan sungguh, Anda telah membacakan surat Al Furqan padaku.” Akhirnya beliau bersabda: “Wahai Hisyam, bacalah surat itu.” Maka Hisyam pun membacanya bacaan yang telah aku dengar sebelumnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seperti inilah surat itu diturunkan.” Kemudian beliau bersabda lagi: “Bacalah wahai Umar.” Lalu aku pun membacanya sebagaimana yang telah diajarkan beliau. Kemudian beliau bersabda: “Seperti ini pulalah ia diturunkan.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi: “Al Qur`an diturunkan dengan Sab’atu Ahruf (tujuh dialek) karena itu bacalah sesuai kemampuan kalian.”(HR. Bukhari)

    hhahahhahahahhaa parah nih para domba…

    • domba says:

      siapa bilang hnya beda dialek?
      quran diedit pertama oleh Abu Bakar.
      mana quran sebelum diedit dan sudah di edit?
      yg belum diedit dibakar.inilah penghilangan buktinya.
      dari mana Abu Bakar menguji?
      dari qirah yg jmlhnya tinggal sedikit krna bnyak yg gugur dlm perang Yamamah.
      klau 1 ayat disaksikan 3 orang sah.jadi tdk sahih krna 2 saksi mati.
      perang yamamah menyisakan 70 an penghafal.
      di waktu mendatang terjadi pengeditan kembali.
      saatkalifah ustman berkuasa.
      ustman menggunakan cara yg sama yakni mengumpulkan penghafal dan sahabat.
      dari abu bakar ke ustman beda beberapa tahun.siapa yg menjamin penghafal tdk ada yg mati?
      jadi jmlh penghafal berkurang.pasti.
      kalifah ustmanpun kelakuannya sama.menghilangkan jejak.Dia membakar quran yg belum di edit.
      apa dia hnya memberi tanda baca?walahu alam.
      baru baru ini muncul quran di masjid sanaa.
      menurut uji karbon umurnya tertua(abad 6)
      disana jg ditemukan tindasan tulisan.
      ternyata quran sebelum ustman ini berbeda dgn quran edisi ustman.
      nah ternyata ustman mengurangi dan mengganti.
      bandingkan manuskrip sanaa dan quran ustman hr ini.kesimpulannya abu bakar ustman telah merubah quran dan mengaburkan data orisinilnya.bukan memberi tanda baca doang.belum ayat rajam yg disimoan aisyah istri nabi Muhamad.ayat tsb hilang dimakan kambing.Aisyahpun menyatakan ayat ustman tdk sama dgn yg dikatakan nabi padanya.

  8. Hakim says:

    Dari anda menulis terlihat bahwa anda seorang ahli neraka. Tulisan ini gak ubahnya seperti sampah yg berserakan dalam otak seorang kafir.

  9. Anonymous says:

    jelaslah sudah bahwa quran dari manusia dan ditulis oleh manusia, liaht saja ayat poerang, lihat saja ayat pembunuhan, hujat caci maki dan dendam dengki dan lainnya, wanita didiskriminasi dan poligami serta derajat laki laki yang lebih istimewa dari wanita makanya dapoat 72 bidadari, wanita dapat 72 perjaka? sama sekali tidak ada dalam quran kasihan wanita….ini ayat setan dari salman rusdi

  10. HambaMU says:

    Anjing menggonggong, Kafilah berlalu.

  11. pemimpi says:

    salahkah saya mengutarakan kebenaran(fakta) kalau iblis itu adalah allah swt?
    iblis bisa bisanya dipercaya jagi allah swt ya?
    Bagaimana karakter IBLIS, dapat anda simak dan anda pahami sesuai dengan karakter ALLOW SWT:
    Allow swt Penyesat
    Sendiri
    QS 04 : 143
    QS 04 : 88
    QS 05 : 41
    QS 06 : 39
    QS 07 : 178
    QS 13 : 27
    QS 14 : 4
    QS 16 : 93
    QS 18 : 17
    QS 30 : 29
    QS 35 : 8
    QS 39 : 23
    QS 39 : 36
    QS 40: 74
    QS 40 : 34
    QS 42 : 44
    QS 42 :46
    QS 45 : 23
    QS 47 : 1
    QS 74 : 31
    Berbagi tugas dengan setan setan
    QS 04 : 118
    QS 15 : 39.
    QS 38 : 82
    Mengutus setan setan
    QS 19 : 83.
    QS 43 : 36
    Pemimpin setan setan
    QS 21 : 82
    Sama seperti IBLIS
    QS8 : 24
    Allow swt PENIPU ULUNG Huwallahu khoirul maaqirin
    QS 3 : 54
    QS 8 : 30
    QS 4 : 142
    QS 10 : 21
    QS 27 : 50
    QS 43 : 79
    QS 86 : 16
    Allow pembohong
    QS 42 : 51
    QS 2 : 259
    Allow Pembuat kacau
    QS 6 : 123
    Alow sadis
    QS 9 : 5
    QS 8 : 12
    QS 4 : 89

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s