APENDIKS A

KONTROVERSI  KAUM  EKSKLUSIF/ KAUM INKLUSIF KRISTEN SELAMA BERABAD-ABAD

Para pewawancara biasanya mengajukan pertanyaan kepada para juru bicara Kristen mulai dari para anggota keluarga besar Billy Graham sampai Pat Robertson dan Jerry Falwell sebagai berikut : “Apakah anda meyakini bahwa semua orang Islam akan masuk neraka ?” Pada umumnya mereka menjawab “ya” baik secara langsung maupun tidak langsung. Isu mengenai siapa yang menurut umat Kristen akan masuk nereka dan siapa yang tidak akan masuk neraka merupakan suatu isu yang telah menjadi sebuah kontroversi manakala dikaitkan dengan peristiwa  11 September  2001.  Isu tersebut dikatakan sebagai berasal dari sudut pandang Kristen yang berlandaskan pada Alkitab Perjanjian Baru, sebenarnya apakah yang dinyatakan oleh Alkitab Perjanjian Baru berkenaan dengan pertanyaan tersebut ?

Sebagian besar orang Kristen yang meyakini Alkitab Perjanjian Baru menganut salah satu dari dua pandangan sebagai tanggapan atas pertanyaan siapa yang akan diselamatkan dan siapa  yang akan binasa, yaitu pandangan eksklusif dan pandangan inklusif. Kedua kelompok  tersebut meyakini bahwa pengorbanan Yesus mati di kayu salib untuk penebusan dosa memang harus dilakukan karena itulah satu-satunya cara Tuhan untuk mengampuni dosa manusia dan hal itu juga membuktikan bahwa Tuhan tidak mau berkompromi dengan dosa karena bagaimanapun juga dosa harus dihukum. (Bukankah hakim yang membiarkan saja keputusannya tidak dilaksanakan dengan semestinya merupakan hakim yang melecehkan hukum, pemerintah, masyarakat, dan dirinya sendiri).

Ketidaktahuan terdakwa mengenai aturan hukum, atau penyesalannya atas perbuatan salah yang telah dilakukannya, atau perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukannya selama ini mungkin akan menjadi bahan pertimbangan bagi hakim untuk memberi  keringanan hukuman kepada terdakwa tersebut, tetapi hakim tidak akan membebaskannya sama sekali dari hukuman atas kesalahan yang dilakukan terdakwa itu. Hukuman tetap hukuman.  Seseorang yang mengharapkan Tuhan agar membiarkan saja terjadinya perbuatan dosa tanpa memberikan hukuman apapun sama saja artinya dengan memohon kepada Tuhan agar Tuhan melanggar kodratnya sendiri sebagai maha suci dan  sudah pasti dengan memohon hal semacam itu orang tersebut justru telah menambah dosanya  sendiri. (Ingat kodrat Tuhan adalah maha suci. Dia tidak akan berkompromi dengan dosa. Dosa harus dihukum).

Pengampunan kesalahan (membebaskan seseorang dari kesalahannya) hanya mungkin dilakukan oleh sang hakim kalau dia sendiri  secara sukarela membayar biaya penebusan atas kesalahan orang tersebut dengan cara dia menerima hukuman sebagai pengganti orang itu. Itulah yang dikerjakan oleh Yesus Kristus sebagai hakim, yaitu untuk menjadi juru selamat dia dengan rela mengorbankan diriNya sendiri mati di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia.

Alkitab Perjanjian Baru juga menyatakan bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa manusia tersebut merupakan suatu penggenapan  dari nubuatan yang tertulis dalam Alkitab Perjanjian Lama. Penebusan ilahi ini merupakan hal yang paling utama dan yang terpenting yang menjadi nafas kehidupan Kristen dan Yahudi, namun Muhammad sangat membenci konsep itu sehingga Islam merupakan antitesis dari konsep Kristen dan Yahudi tersebut.

Masih ada satu pertanyaan lagi yang jawabannya hanya dapat diperoleh dengan mendalami Alkitab Perjanjian Baru yaitu apakah yang harus dilakukan oleh seseorang untuk menerima pengampunan dosa melalui program penebusan yang ditawarkan oleh Yesus Kristus, sang hakim sekaligus juru selamat manusia. Inilah pertanyaan yang memisahkan kelompok Kristen eksklusif dengan kelompok Kristen inklusif.

MENCERMATI KESEPAHAMAN-KESEPAHAMAN

Menggunakan istilah dari Alkitab Perjanjian Baru,  kedua kelompok tersebut (eksklusif dan inklusif) mempunyai pemahaman yang sama terhadap pernyataan Yesus yang tertulis dalam Yohanes 14 : 6 sebagai berikut : “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku“.

Kedua kelompok tersebut juga sama-sama meyakini bahwa semua bayi atau anak kecil yang meninggal dunia akan secara otomatis menikmati jaminan penebusan melalui pengorbanan Yesus. Tetapi kedua kelompok tersebut tidak memperhatikan tentang perkiraan para sejarawan medis sehubungan dengan rata-rata tingkat kematian bayi sepanjang sejarah manusia.

Apabila mayoritas manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan tersebut binasa, hal itu berarti Tuhan telah kehilangan  bagian terpenting dari komoditas yang sangat berharga tersebut yaitu KeserupaanNya.

Saya selalu mengingat sebuah laporan yang saya baca sekitar 20 tahun yang lalu yang menyatakan bahwa sekelompok ilmuwan memperkirakan bahwa sejumlah 66 persen janin yang dikandung wanita akan mati karena berbagai sebab dan kalau mereka lahir dengan selamatpun mereka tidak akan bertahan hidup sampai usia 5 tahun.

Jadi bayi-bayi dan anak-anak kecil seperti inilah yang secara otomatis akan menikmati jaminan penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus. Dengan demikian jelas bahwa lebih banyak orang yang akan ditebus dosanya melalui situasi semacam tersebut di atas daripada orang yang akan binasa.

Sementara itu bagi 34 persen yang dapat dilahirkan dan dibesarkan hanya mempunyai sedikit waktu untuk bertobat. Selain itu perlu diperhatikan bahwa jalur pertobatan hanya bisa dilakukan ketika seseorang masih hidup bukan setelah dia meninggal. Alkitab Perjanjian Baru memperingatkan : “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9 : 27). Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat (2 Korintus 5:10)”.

 

 

MENDEFINISIKAN  ISU-ISU DAN PERBEDAAN-PERBEDAAN

 

Selain kesepahaman  pandangan antara kelompok inklusif  dengan kelompok eksklusif, kedua kelompok juga mempunyai perbedaan pandangan. Mengapa mereka berbeda ? Alkitab menegaskan bahwa ada dua kategori misi yang disampaikan Tuhan kepada umat manusia. Kaum eksklusif percaya bahwa Yesus hanya melaksanakan salah satu dari dua kategori misi tersebut dalam rangka menebus kembali orang-orang yang tidak memperoleh kesempatan menerima penebusan otomatis ketika masih kanak-kanak. Mereka disebut eksklusif karena mereka mengesampingkan kemungkinan bahwa Yesus mungkin saja menjalankan kategori misi yang satunya lagi yaitu menarik orang-orang yang terhilang sejak ketidakberdosaan masa kanak-kanak melalui pertobatan menuju ke iman, itulah sebabnya penebusan diperbaharui.

Sebaliknya kaum inklusif  adalah orang-orang yang menerima baik salah satu kategori misi maupun kedua-duanya sebagai instrumen  yang digunakan Yesus untuk menarik orang-orang yang terhilang menuju ke pertobatan dan iman yang membawa pembaharuan penebusan.

 

Peran Kesaksian

Apakah kedua kategori kesaksian tersebut ?

Salah satu kategori itu disebut kesaksian umum yang merupakan kesaksian dari langit dan bumi sebagaimana yang dideskripsikan oleh Mazmur 19 : 1- 4 dan Roma 1 : 19 – 20. Ciptaan tersebut menanamkan pengetahuan umum kepada kita tentang Tuhan sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Pemelihara, itulah sebabnya diberi istilah umum. Selain itu juga karena siapapun yang hidup di dunia ini melihat pengetahuan umum tersebut.

Kaum eksklusif memang melihat bahwa kesaksian tentang pengetahuan umum ini menanamkan kepada semua orang yang terhilang agar mereka dapat  merasakan diri mereka bersalah dan menyadari tentang dosa-dosa yang telah mereka perbuat.  Namun pengetahuan tentang hal itu saja tidaklah cukup. Menurut kaum eksklusif,  orang-orang yang terhilang selain disadarkan tentang dosa-dosa yang telah mereka perbuat mereka juga perlu diarahkan agar mau bertobat dan beriman  secara sungguh-sungguh sehingga memperoleh penebusan dosa. Jadi sesuai dengan Yohanes 14 : 6 kaum eksklusif mengesampingkan kesaksian umum sebagai pembawa keselamatan dalam tangan Yesus. Namun demikian kaum eksklusif justru percaya bahwa Yesus juga menebus orang-orang yang mengacu nama “Yesus” melalui pemaparan Alkitab Perjanjian Baru , atau melalui doa kepadaNya dalam memohon pengampunan dari Dia.

Nama Yesus

Pandangan ini mengacu semata-mata dari  Kisah Para Rasul  4 : 12. Sementara itu kaum inklusif meyakini bahwa kesaksian umum sebagai salah satu instrumen penebusan dosa sebagaimana yang dimaksud dalam Yohanes  14 : 6 (itu menurut tafsir mereka). Mereka bahkan berpendapat bahwa Petrus yang mengucapkan kata-kata  dalam Kisah Para Rasul   4 : 12 adalah seorang Ibrani dan orang-orang Ibrani sejak jaman kuno seringkali menggunakan kata “nama” secara idiomatis.  Maksud Petrus yaitu bahwa Yesus adalah satu-satunya juru selamat manusia. Menurut kaum inklusif Petrus heran mengetahui bahwa ada orang yang berpikir bahwa nama Yesus dan manusia Yesus merupakan  dua   maujud yang berbeda yang kedua-duanya harus dilibatkan sebelum keselamatan seseorang diaktualisasikan .

Kaum eksklusif memindahkan pemahaman mereka tentang Kisah Para Rasul 4 : 12 ke dalam pembahasan  tentang Yohanes 14 : 6  itu sendiri. Kaum inklusif  menjawab bahwa  Yohanes 14 : 6  hanya menjelaskan apa yang ditawarkan Yesus, tetapi tidak menjelaskan tentang apa yang perlu dilakukan oleh  pemohon agar dapat memperoleh manfaat dari tawaran Yesus tersebut.  Apakah pemohon harus berdoa demi nama Yesus agar dapat sampai kepada Bapa Surgawi melalui Yesus?  Atau, jika seseorang berdoa dengan iman kepada Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi, apakah Yesus inkognito  siap membawa orang tersebut kepada Bapa Surgawi ?  Kaum inklusif berkata “ya” !  Yesus inkognito adalah juru selamat seperti halnya nama panggilan Yesus.

Kaum eksklusif juga mendasarkan pandangannya pada Roma 10 : 9. Sementara itu kaum inklusif percaya bahwa Roma 10 : 9 mendeskripsikan bagaimana orang-orang memperoleh keselamatan melalui Yesus ketika kesaksian Alkitab Perjanjian Baru telah dinyatakan kepada mereka.

Menurut pandangan kaum inklusif orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang Alkitab Perjanjian Baru dapat juga ditebus (diselamatkan) oleh Yesus inkognito. Menurut mereka hal tersebut didasarkan pada ayat Roma 10 : 13 yang dikutip Paulus dari kitab Yoel  2 : 32.

Kaum inklusif percaya bahwa sejumlah orang menolak kesaksian tentang penciptaan alam semesta, akibatnya mereka kehilangan kesempatan memperoleh pengampunan  dosa dan akhirnya mati untuk selama-lamanya. Jadi kaum inklusif percaya bahwa Yesus memang menyelamatkan manusia di manapun berada yang mensyukuri  semua keajaiban ciptaan Tuhan yang terdapat di sekitar mereka, dan selain itu mereka juga harus memohon kepada Tuhan untuk mengasihani mereka. Mereka merujuk pada Ibrani 11 : 6.  Kaum inklusif juga merujuk pada Roma 2 : 7. Ayat tersebut tidak menyebutkan sama sekali tentang penggunaan nama Yesus dalam berdoa. Pemahaman kaum inklusif mengenai kedua ayat tersebut  didukung oleh Kisah  Para  Rasul 17 : 26  dan 27.

Sementara itu kaum eksklusif menegaskan bahwa apabila  pandangan kaum inklusif diterapkan, motivasi Kristen untuk mengabarkan injil ke seluruh dunia pasti akan mengalami kegagalan. Untuk menandingi pandangan kaum inklusif tersebut di atas, kaum eksklusif mengutip  Roma 10 : 17. Sementara itu kaum inklusif menangkis pandangan  kaum eksklusif dengan mengutip Roma 10 : 18 yang merujuk dari Mazmur  19 : 4.

Kaum eksklusif mengutip Kisah Para Rasul 11 : 14  untuk menunjukkan bahwa kesaksian seorang malaikatpun tidak bisa menyelamatkan seorang pemuja berhala yang berkedudukan tinggi seperti Kornelius, sampai datangnya Petrus yang mengajar tentang nama Yesus Kristus kepadanya.  Sementara itu kaum inklusif  menunjukkan tiga macam kesaksian yang dinyatakan sebelumnya yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 10: 4-6; 10 : 22 ; 10 : 30-32  yang mengkonfirmasikan bahwa malaikat tersebut sebenarnya tidak mengatakan kepada Kornelius semua hal yang kemudian disampaikan oleh Petrus kepada komite tersebut.

Merasa tidak enak hati oleh adanya kritikan dari rasul-rasul sejawatnya di Yerusalem, Petrus nampaknya telah sedikit memoles ceritanya dengan harapan dapat mendinginkan  suasana panas yang menyelimuti  kedudukannya.

 

Putusan Pengadilan Tuhan

Saya tahu seorang pendukung inklusif yang merujuk pada Alkitab Perjanjian Lama yaitu Mazmur  50 : 1 – 6 , yang menceritakan  tentang orang-orang yang dikumpulkan (umat Tuhan)  “dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya”   untuk tunduk mendengarkan keputusan pengadilan Tuhan.  Para “saksi” yang dipanggil Tuhan untuk mengadili mereka bukan Hukum (Torat) maupun para Nabi alkitabiah, tetapi justru Tuhan berseru kepada langit di atas (langit yang dalam ayat 6 “memberitahukan keadilanNya/kebenaranNya” )  dan kepada bumi untuk mengadili umatNya. Jadi Tuhan mengadili umatNya sesuai dengan bagaimana tanggapan  (perilaku) mereka terhadap  kesaksian umum (kesaksian langit dan bumi) sebagai satu-satunya “kesaksian” yang mereka punya.

Sekarang pertanyaannya adalah : Ketika Tuhan mengadili orang- orang yang masuk  “kategori itu” di dalam mahkamah pengadilan dengan kondisi seperti tersebut di atas tadi,  apakah ada sebagian dari mereka yang selamat atau semuanya dihukum?  Mazmur 50 : 5  meyakinkan kita bahwa sebagian dari orang-orang itu akan diselamatkan (dibebaskan dari hukuman).  Jadi setelah berlangsungnya pengadilan tersebut, Tuhan berkata : “Bawalah kemari  orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan“.

 

 

 

Banyak orang yang ditebus (dosanya) karena mereka telah terikat perjanjian dengan Tuhan (berdasarkan korban sembelihan) yang dicanangkan  oleh para patriark  pada jaman Perjanjian Lama.

 

 

 

 

Selain sebagian orang yang ditebus (dosanya) karena mereka telah terikat perjanjian dengan Tuhan yang dicanangkan oleh para patriark pada jaman Perjanjian Lama,  ada juga sebagian orang lagi yang diselamatkan (ditebus dosanya) melalui janji keselamatan dari Tuhan yang diwujudkan dalam program penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus yang disebut Mesiah.  Tetapi Mazmur 50 : 5 hanya berbicara tentang orang-orang yang diselamatkan karena mereka telah mengikat perjanjian dengan Tuhan berdasarkan korban sembelihan mereka sendiri (secara pribadi). Jadi siapakah juru selamat mereka ?

Kaum inklusif menegaskan bahwa juru selamat mereka adalah logos yaitu Yesus inkognito. Kaum inklusif juga mengacu pada Yohanes 3 : 21 yang berbicara tentang seseorang yang melakukan hal yang benar dan bahwa perbuatan benar tersebut dilakukan dalam Tuhan sebelum orang tersebut datang kepada terang.  Terang semacam ini tentunya merupakan kesaksian umum.

Kaum inklusif selain merujuk Yohanes 3 : 21  mereka  juga merujuk Yohanes 10 : 16 dimana Yesus menyatakan tentang adanya domba-domba lain yang juga akan Dia “tuntun”  sehingga mereka semua akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Kaum inklusif mengakui bahwa adanya domba-domba lain tersebut menunjukkan bahwaYesus  sesungguhnya ingin memberikan terang kepada mereka (domba-domba lain tersebut)  melalui kaum inklusif.

Sementara itu kaum eksklusif  memang mengakui bahwa orang-orang diselamatkan walaupun  belum mengenal nama Yesus  dalam jaman Perjanjian Lama, tetapi sekarang setelah Yesus menyatakan diriNya kepada dunia ini, siapapun harus memohon kepada Yesus  untuk diselamatkan.  Pernyataan tersebut ditanggapi oleh kaum inklusif yang menyatakan bahwa pernyataan kaum eksklusif tersebut menempatkan Tuhan tidak lebih dari sekedar seorang wasit pertandingan sepakbola yang melakukan perubahan aturan permainan tepat  menjelang setengah permainan, namun yang diberitahu tentang adanya perubahan tersebut hanya salah satu tim saja.

Kalau seorang eksklusif bertemu dengan seorang Islam di depan umum, masing-masing pihak akan mengatakan bahwa pihak lainnya akan masuk neraka.

Sementara itu kalau seorang  inklusif  bertemu dengan seorang Islam atau seorang Hindu atau seorang Buddha,  dia dapat berkata dengan tenang : “Jika anda seorang yang telah ditebus, hal itu berarti anda telah diselamatkan oleh Yesus sekalipun anda tidak mengenal Yesus  tersebut”. Dan perlu anda ketahui bahwa pengampunanmu itu merupakan kebaikan dari Yesus Kristus bukan jasa Muhammad atau jasa Alquran atau jasa Krishna  atau jasa Buddha Gautama.

 

 

 

Jika anda belum diselamatkan oleh Yesus inkognito,

Yesus  sejati siap menyelamatkan anda sekarang juga.

 

 

 

Mohonlah keselamatan itu dengan segera kepadaNya.

Para pembaca Kristen, silahkan anda menentukan pandangan mana yang ingin anda ikuti (pandangan kaum eksklusif atau pandangan kaum inklusif)  karena pilihan anda tersebut akan menentukan bagaimana anda akan menjadi saksi Kristus bagi orang-orang non-Kristen.

Saya mengingatkan bahwa kebencian mendalam yang dicetuskan oleh Alquran terhadap Yesus sejati menurut Alkitab Perjanjian Baru dan terhadap umat Kristen serta Yahudi tidak akan membuat Yesus inkognito yang dicanangkan kaum inklusif mampu menyelamatkan orang-orang Islam radikal. Suatu hati yang penuh kebencian tidak akan mudah menerima kesaksian  umum semata. Selain itu tanpa hati yang hancur dan pertobatan kepada Tuhan serta percaya pada Yesus tidak akan ada keselamatan.

 

Cara-Cara Televisi Mengekspresikan Antagonisme Nonverbal Terhadap Orang-Orang  Yang Diwawancarainya

Seorang pewawancara televisi mengundang seorang pendeta Protestan dalam programnya untuk mengomentari Islam. Salah satu pokok komentar yang dipilih sang pendeta adalah tentang Muhammad mengawini anak perempuan berusia 6 tahun yang bernama Aisha. Dalam komentarnya dia mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang “pedophile”.

Sang pewawancara menyeringai mendengar pernyataan sang pendeta dan secara defensif  dia berusaha mengalihkan  pembicaraan tersebut dan menganggap kata-kata sang pendeta tersebut  hanya sebagai suatu lelucon. Kemudian sang pendeta tersebut juga tertawa menyeringai.

Namun tiba-tiba kamera menyoroti sang pendeta dari jarak sangat dekat sampai pori-pori sang pendeta terlihat jelas dan bentuk wajahnya menjadi sangat besar dan berliuk-liuk secara tidak wajar (pletat-pletot). Sang juru kamera nampaknya sengaja  membuat penampilan sang pendeta menjadi nampak tidak menarik akibat pernyataannya tadi. Padahal saya tidak pernah melihat kamera televisi difokuskan sedemikian dekatnya kepada orang yang diwawancarai apalagi kalau yang diwawancarai tersebut adalah seorang Muslim.

Hal itu jelas menunjukkan bahwa pihak pewawancara dan juru kamera tidak senang mendengarkan apapun tentang Islam dari mulut sang pendeta. Mereka hanya ingin mempermalukan  dan mentertawakan  sang pendeta dan semua orang Kristen konservatif yang menyertai dia. Di masa yang akan datang, sang pendeta sebelum diwawancarai oleh televisi sebaiknya meminta pernyataan tertulis dari pihak televisi yang menyatakan bahwa kamera yang difokuskan kepadanya harus dapat memperlihatkan  dirinya secara seutuhnya dari kaki sampai kepala atau paling tidak dari perut sampai kepala dengan memperhatikan nilai-nilai kesopanan.

Kalau seandainya ada seorang Muslim yang hadir dalam wawancara tersebut, dia pasti akan menyanggah  pernyataan sang pendeta dengan mengatakan bahwa ayah dari Aisha sendiri secara sukarela menyerahkan Aisha kepada Muhammad agar dinikahinya, jadi bagaimana anda sebagai pendeta bisa mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang “pedophile”. (“pedophile” mendeskripsikan  seseorang yang secara diam-diam melecehkan anak-anak).

 

Alangkah Merebaknya Semangat Kompromi Dengan Islam Terjalin

Sejumlah penulis sekuler termasuk Rodinson telah mengekspos secara efektif semua tindakan Muhammad seperti misalnya pembunuhan, pengkhianatan, perbudakan, pemenggalan kepala, penjarahan, dan penipuan di hadapan publik , namun nampaknya mereka pada akhir tulisan mereka tetap saja mentolerir perbuatan-perbuatan jahat tersebut. Mereka tetap memuji Muhammad karena dia berhasil mempengaruhi lebih dari 1 milyar manusia untuk menjadi pengikut-pengikutnya.  Jadi para penulis tersebut telah menerima secara tidak logis suatu pandangan yang menyatakan bahwa  siapa yang berkuasa dialah yang benar. Barangkali mereka takut kalau-kalau  umat Islam radikal akan membalas dendam dengan cara menyakiti mereka secara fisik.

Saya berpendapat bahwa kita memang wajib menghargai dan menghormati umat Muslim sebagai sesama manusia, tetapi kita juga harus faktual (berbicara sesuai fakta) bila menghadapi mereka. Selanjutnya biarlah fakta-fakta itu sendiri  yang menyentuh  suara hati umat Muslim.  Lalu kita bertanya kepada mereka tentang bagaimana reaksi suara hati  mereka terhadap perbuatan-perbuatan keji itu misalnya terhadap tindakan pembunuhan – pembunuhan yang dilakukan Muhammad tersebut. Bagaimana mungkin mereka dapat merekomendasikan kepada kita berbagai kebohongan tersebut atas nama Tuhan ?

Umat Muslim yang berbaur dengan masyarakat Barat perlu mengetahui bagaimana masyarakat Barat memperoleh kebebasan mereka.  Kebebasan dalam masyarakat Barat telah berlaku sejak lama dan setiap waktu mengalami peningkatan. Masyarakat Barat tidak akan mentolerir penjarahan, penipuan, pembunuhan, ketidakadilan dalam politik dan bahkan dalam agama sekalipun. Muhammad dan Alquran boleh saja didewakan di Mekah, tetapi tidak di Madrid atau di Minneapolis. Sudah tiba saatnya bagi masyarakat Barat di manapun berada untuk memberitahu umat Muslim tentang pandangan masyarakat Barat terhadap Alquran yang tak masuk akal dan terhadap “nabi” Muhammad.

Hadapi umat Muslim secara jujur dan terbuka. Perlihatkan fakta-fakta kepada mereka. Jika banyak orang Barat menyampaikan hal tersebut kepada umat Muslim, pasti banyak di antara umat Muslim yang jujur dan sederhana akan membaca dan meneliti sendiri seluruh isi Alquran dan mereka pasti melihat apa yang kami lihat dan setelah itu terserah keputusan mereka.

Bagaimana kalau setelah mereka membaca Alquran mereka tetap mempertahankannya dan menerimanya  sebagaimana adanya? Itu adalah hak mereka, tetapi paling tidak kenyataan itu menyadarkan mereka mengapa kami tidak mau bergabung dengan mereka dan tidak mau mengusulkan pemimpin-pemimpin  Muslim untuk menduduki jabatan-jabatan pada kantor-kantor pelayanan umum.  Kalau umat Muslim sudah tahu bahwa Alquran tidak dipandang  di negara-negara Barat, sebagian dari mereka mungkin akan mengalami stres dan kurang nyaman tinggal di Barat sehingga  kemudian memutuskan untuk tidak tinggal di dalam lingkungan masyarakat Barat yang jelas-jelas menolak untuk mentaati Alquran secara membuta.

Marilah kita secara jujur, benar dan terbuka mengupas isi Alquran sampai seakar-akarnya karena fakta-fakta yang benar adalah pintu menuju ke perdamaian yang sejati.

 

Jangan mengancam atau melukai hati umat Muslim, tidak peduli sebesar apapun kemarahan (kekasaran) mereka dalam menanggapi pernyataan anda.

 

 

Para pembaca yang ingin memberi komentar tentang buku ini atau ingin bertanya dan memberi saran mengenai bagaimana masyarakat Barat dapat hidup berdampingan dengan umat Muslim di masa-masa yang akan datang, silahkan anda mengirim e-mail pada saya :

 

TheKoranExaminer@AOL.com

 

 

Jawaban-jawaban akan dikategorikan. Pendapat-pendapat akan dipublikasikan secara periodik  pada website saya:

 

www.DonRichardsonBookSales.com

 

Tanggapan-tanggapan yang memberi kesan bahwa pengirimnya tidak memahami isi buku ini tidak akan dikategorikan.  Tanggapan-tanggapan anda harus dilengkapi dengan nama anda, kota dan negara dan tidak boleh lebih dari 1 layar komputer.

Para pembaca juga dapat memesan buku-buku tentang Islam termasuk buku-buku rujukan yang tertulis dalam buku ini dengan harga diskon ke alamat website saya tersebut di atas.

 

Tuhan memberkati kita semua dengan damai sejahtera berdasarkan prinsip-prinsipNya.  Kiranya Tuhan, Bapa Surgawi, menjauhkan seluruh dunia ini dari ancaman jihad.

 

Sir William Muir menulis :

 

Pedang Muhammad dan Alquran adalah musuh peradaban, kebebasan, dan kebenaran yang paling gigih yang pernah dikenal dunia.1

 

Filsuf  Perancis yang bernama Ernest Renan mengumandangkan : “Umat Muslim adalah korban pertama dari Islam ……..  Membebaskan seorang Muslim dari agamanya adalah hal yang paling baik yang perlu dilakukan.2

Mengalahkan musuh tanpa menggunakan cara-cara kekerasan seperti yang dilakukan musuh tersebut adalah suatu tugas berat yang harus diemban oleh umat manusia.

 

Catatan :

1.                 William Muir, The Life of Muhammad (Edinburgh, United Kingdom:T. & T. Clark, 1923), n.p.

2.                 Ernest Renan, dikutip dari Ibn Warraq, Why I Am Not a Muslim (Amherst, NY: Prometheus Books, 1995), n.p.

About siapmurtad

Siap memaparkan kesalahan alquran
This entry was posted in BUKU and tagged , , . Bookmark the permalink.

1 Response to APENDIKS A

  1. anak manja says:

    Konsep yang salah “Pengampunan kesalahan (membebaskan seseorang dari kesalahannya) hanya mungkin dilakukan oleh sang hakim kalau dia sendiri secara sukarela membayar biaya penebusan atas kesalahan orang tersebut dengan cara dia menerima hukuman sebagai pengganti orang itu”.

    Apa yang terjadi jika hal ini diterapkan dalam dunia peradilan. Seorang hakim (yang jujur dan bersih) dihukum cambuk, diludahi, dll, atau dihukum 20 tahun penjara untuk menghapuskan kesalahan para koruptor, pencuri, pembunuh dll. Padahal, dia memiliki kewenangan membebaskan kesalahan orang.

    Alih-alih membebaskan, dia malah dipaksa presidennya untuk mengikuti skenario supaya dapat dibunuh sehingga dosa-dosa semua penjahat bersih (bagus betul cara pandang Kristen). Sayangnya, walaupun sang hakim tsb tidak ingin dihukum ( biarkanlah cawan tsb berlalu), tetap saja Presidennya orang Kristen menghukumnya. Maka bersenang-senanglah anda koruptor karena menurut orang Kristen, dosa anda sudah diampuni. Yang ingin korupsi, korupsilah, yang ingin berzinah, berzinahlah. Ada hakim kristen yang sudah menjamin anda. Halleluyah…. Terpujilah kepercayaan orang kristen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s